Pertanyaan ini sering muncul di kalangan dosen muda: Apakah perlu melanjutkan studi doktor (S3)? Sebagian orang menganggap S3 adalah kewajiban bagi dosen, sementara yang lain melihatnya sebagai pilihan yang bergantung pada kebutuhan dan tujuan pribadi. Jawaban paling jujur sebenarnya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul kecenderungan di kalangan sebagian dosen untuk tidak terlalu bersemangat melanjutkan studi S3. Salah satu alasannya adalah persepsi bahwa gelar doktor tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan karier di lingkungan perguruan tinggi. Dalam sistem jabatan fungsional misalnya, jabatan lektor kepala masih dapat diraih oleh dosen dengan kualifikasi S2. Sementara itu, gelar doktor secara formal baru benar-benar menjadi syarat utama ketika seseorang ingin mencapai jabatan akademik tertinggi, yaitu guru besar.
Selain itu, dalam praktik di banyak perguruan tinggi, berbagai posisi struktural di dalam kampus juga tidak selalu mensyaratkan gelar S3. Beberapa jabatan seperti ketua program studi, kepala unit, bahkan posisi manajerial tertentu sering kali lebih mempertimbangkan pengalaman administratif atau kemampuan manajerial dibandingkan jenjang pendidikan terakhir. Kondisi ini secara tidak langsung menimbulkan persepsi bahwa melanjutkan studi doktor bukanlah kebutuhan yang mendesak bagi sebagian dosen, terutama jika tujuan utamanya adalah peningkatan posisi atau jabatan di institusi.
Selain faktor struktur karier, aspek dukungan finansial juga menjadi pertimbangan penting yang sering kali membuat dosen berpikir dua kali untuk melanjutkan studi S3. Dalam banyak kasus, ketika seorang dosen menjalani studi doktor, terutama jika harus meninggalkan tugas kedinasan secara penuh, ia tidak lagi menerima beberapa komponen pendapatan yang sebelumnya menjadi bagian dari penghasilan rutin. Remunerasi, tunjangan fungsional, bahkan kesempatan untuk mengajukan hibah penelitian sering kali tidak dapat diperoleh selama masa studi. Kondisi ini tentu menimbulkan konsekuensi ekonomi yang tidak kecil, terutama bagi dosen yang memiliki tanggungan keluarga.
Situasi tersebut membuat keputusan untuk melanjutkan S3 bukan hanya persoalan akademik, tetapi juga persoalan finansial. Seorang dosen harus mempertimbangkan bagaimana menjaga kestabilan ekonomi keluarga selama beberapa tahun masa studi. Meskipun tersedia berbagai skema beasiswa, tidak semua skema mampu sepenuhnya menggantikan seluruh komponen penghasilan yang sebelumnya diterima. Akibatnya, bagi sebagian dosen, melanjutkan studi doktor justru dipersepsikan sebagai langkah yang berisiko secara finansial. Kondisi ini pada akhirnya dapat mempengaruhi motivasi dosen untuk melanjutkan studi S3. Ketika manfaat karier tidak terasa signifikan dalam jangka pendek, sementara konsekuensi finansial harus ditanggung selama masa studi, sebagian dosen mungkin memilih untuk tetap melanjutkan aktivitas akademiknya tanpa mengambil jalur studi doktor.
Namun demikian, melanjutkan studi S3 sebenarnya dapat dipandang sebagai sebuah investasi akademik jangka panjang. Seorang dosen yang menempuh pendidikan doktor bukan hanya sedang mengejar gelar tambahan, tetapi sedang membangun kapasitas intelektual dan kemampuan riset yang lebih mendalam. Proses pendidikan doktor melatih seseorang untuk merumuskan pertanyaan ilmiah yang tajam, mengembangkan metodologi penelitian yang kuat, serta menghasilkan kontribusi baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam konteks ini, melanjutkan studi S3 juga sering kali dapat dianalogikan sebagai masa menanam, bukan masa panen. Pada fase ini, seorang dosen menanam banyak hal: pengetahuan baru, keterampilan penelitian, jaringan akademik, serta kedalaman berpikir ilmiah. Prosesnya sering kali panjang, melelahkan, dan tidak selalu langsung memberikan hasil yang terlihat. Namun sebagaimana proses menanam, hasil dari perjalanan tersebut biasanya baru akan terlihat setelah waktu yang cukup panjang. Pengalaman penelitian yang matang, kemampuan membimbing mahasiswa, jejaring kolaborasi internasional, serta kontribusi ilmiah yang lebih kuat merupakan “buah” yang perlahan akan muncul setelah masa studi selesai. Dalam perspektif ini, studi doktor bukanlah jalan cepat menuju keuntungan langsung, melainkan investasi kesabaran yang hasilnya baru dipetik dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, studi doktor seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pilihan individu semata, tetapi juga sebagai bagian dari strategi pengembangan sumber daya manusia di perguruan tinggi. Jika universitas ingin membangun tradisi akademik yang kuat dan berkelanjutan, maka investasi pada dosen yang melanjutkan studi S3 merupakan langkah yang sangat penting. Pada akhirnya, manfaat terbesar dari investasi ini bukan hanya dirasakan oleh individu dosen tersebut, tetapi juga oleh institusi dan perkembangan ilmu pengetahuan secara lebih luas